Archive for September, 2008

17
Sep
08

Pwisi

Burung – burung melayang

Melihat gunung dari atas

Melihat indahnya daratan

Melihat indahnya dunia

Melihat indahnya danau

Melihat indahnya negeri

Burung itu

Melihat manusia

Seperti apa

Melihat dengan lekat

dengan kepala..

hihihi… pwisi aku (nyang karyaku semua) mang ga ada yang menarik! kliatan bodo aja!

17
Sep
08

Nanam Jagung

Pagi tadi aku nanam jagung. Gak jadi dehh, ulangan PKn nya! Ceritanya paginya kan semuanya dikasih plastik. Abis dikasih plastik (plastik bolong) Dicium – cium gitu sama temen-temen aku! yang pastinya soooo bau banget! hehehe… temen-temen aku pada heran, terus kata pak Epi (Guru klas ku) gini “Kita mau nanam jagung, siapa yang tumbuhnya paling subur dan tinggi, dapat 500.000, kemudian, yang tumbuhnya lumayan subur, dapat 200.000, dan kemudian yang terakhir dapat 50.000, ok?” kmudian aku dan yg lainnya cuma ngangguk aja (doang..)

terus bel bunyi, ada pengumuman, gini neeeh… Ternyata disuruh ngambil tanah doloo tuh di dekat kantin atas, yang pastinya capek bo! ABCD! Ah Bo Cape Deh!! perlu berdesak-desakan lagi tuhh, yaa, kami semua tetep aja harus terpaksa berdesak-desakan, mana rok anak-anak cewek udah kotor, ada yang sampai kerudung tuch kotornya…….. kemudian, pas orang udah sepi aku baru dapat tanah, sama Ilsa, Ica, Afi, Hawari, n Lathifa… trus mana baru dapat sedikit, ntar dicari tanah susulannya,

Kemudian, udah *setengah* penuh akhirnya yaaa gitu deh, kami harus membawa, dan menggendong tuhh plastik penuh tanah yang “cacingan” itu… (malah ada yang sampe diseret lhoo..) apalagi kami semua puasa. Nanem jagung, tuh lihat, orang-orang harus kena matahari, tuh! ada yang sampe terpaksa, malah rasa mo ngebatalin puasa gituu!! aku capek banget!!! habis dikasih biji jagung untungnya buru- buru pulang. Tapi, rasanya gak mau!! aku juga pengin melihat pertumbuhan jagung itu.. ehm.. semoga aku… sem..sem..semoga ak..aku bis..bis..bis… bisa mendapatkan … YANG PERTAMA!! huaaa, semoga aja *ngeyel*

ntar sore aku mau curi-curi ah.. tuhh, yakinin kalau ga ada yang ngerusak, aku bawa pulang, kutukar dengan biji yang lebih cepat tumbuh! dan… dan… aku bakalan ngeracunin punya semua orang! hahaha! tentu saja… tidak! iyaah karena aku tahu kalau mencuri itu dilarang agama, bo! doain juga semoga puasaku makin full terus y!!

SEKIAN N BERSAMBUNG!

16
Sep
08

Teman yang sombong

Ines : halo Mariam

Mariam : Halo Ines

Ines : kamu kemana aja?

Mariam : waktu liburan?

Ines : ya

Mariam : Aku dirumah

Ines : Aku ke ancol, enak loh!

Mariam : Oh, bawa foto?

Ines : Gak! miskin! cemen! dasar!

Mariam : Ah, ya sudah..

Ines : Ya! pergi!

Akhirnya Mariam pergi, deh

15
Sep
08

Akhirnya

Tadi ada pelajaran sekolah. Seluruh murid-murid berkumpul , dan berbaris. kemudian aku melihat ke daftar pelajaran kalau ada pelajaran olahraga.Atau orkes. pa datuk gak datang, jadi aku main jengkal. Coba aja kalau pa datuk datang, aku gak berhasil main jengkal – nya kan?

10
Sep
08

Aku

aku punya adek namanya Zahid. Dia kelas 1 sd. Usianya 5 tahun, aku pengen jadi penulis . Sekarang bukuku mau terbit nih. Doain ya supaya  bukuku terbit!!

07
Sep
08

I cried for my brother six time


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah yang kering dan kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.

Aku mempunyai seorang adik, usianya tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang menurutku sudah dipunyai oleh semua gadis di sekelilingku, aku mencuri uang lima puluh sen dari laci ayahku.Tidak lama kemudian ayah segera menyadarinya. Beliau menyuruh adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua memang layak untuk dipukuli!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tetapi tiba-tiba adikku mencengkeram tangan Ayah dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tak ayal, tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambuki adikku sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku mendekap adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, batang demi batang. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Telah cukup saya membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul wajah adikku. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemahnya? Bahkan jika berarti Ayah mesti mengemis di jalanan Ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang bengkak karena pukulan Ayah, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.
” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah kering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan berjanji akan mengirim uang untuk kakak.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada orang dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh. Seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku, “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”
Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,”Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya ketika makan. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

07
Sep
08

jangan benci aku, mama!

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam,suamiku,memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica,demikian juga Sam.

Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya,namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah
rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.

Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu.
Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun!

Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. ..

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”
Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!

Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya disini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
(diambil dari kisah nyata di Irlandia utara)

07
Sep
08

Hayy!!!

September aku gak bisa puasa… fiuh.. untungnya tahan, awal puasa sih aku kagak sahur!! tapi, ya biasa koq karena aku islam, puasaku full deh meski gak sahur!

Aku balik lagi (kelamaan, yak???) dan aku paling suka pastang posting, aku paling seneng karena sudah main the sims di rumah – nya ocha /latifha… Aku seneng2 gitu! rada2 gemes sama anaknya. kadang-kadang juga ya, aku selalu buka wawasan sama d sims!!

Abis itu, aku … Gak bisa ngelepasin hatiku yang udah lekat ini sama my kompu! hehehe, jelas enggak dong. Oh iya, bagi teman2.. dulu pertama ku punya wp ini kalau post masih georgia. Tapi, sekarang berubah jadi lucida font nya! anehhhhhhhhhhhhhhhhhhhh banget…

Oh iya! aku juga pengen main kembang api baru diantaranya :bumble be, kupukypup terbang, dan masih banyak lagi. Bumble bee sama kupu – kupu terbang sih sama aja! cuman, kupu kupu terbang lebih besar dan buatan indonesia, gitu-gitu aku jadi sering main kembang api. Bukan cuma sering! tapi sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat sering! sering banget!

Tadi aku juga nangkepin ular sama kak Zahra terus manjat pohon naik tangga (meski aku berani) pas udah itu aku langsung gak enjoy. Akhirnya masuk dalem rumah sama adi bayinya kak Zahro ituuuuuuuuuuu, setelah itu nonton tv, karna akyu boring. Aku jadi…. baca buku, reading! yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeessss…

Kalian tahu aku sangat suka membaca? yang kalian ketahui dari buku itu apa? ilmu nya kan! pasti berguna untuk kita, nusa dan bangsa!  yang pastinya berguna untuk kita semua, freinds!!

tanggal ** september sorry kalau kamu yang ngajak chatting, apalah.. inilah.. itulah.. POKOKNYA! aku ini kan mau pergi! udah ah! don’t be !!!

udah yaa, aku ngetiknya capek ni!

01
Sep
08

HTML Source

Haloo, im back, mungkin sekarang nambah 1 bulan lagii, hahaaa, sekarang balik aku gak bawa tempesmileyaku membawa sebuah cerita tutorial yg sangat menarik, nah, bagi kalian yang mo tahuuuu, silakan aja dehh, aku persilakan.

Membuat tulisan bold
kode:
<b>TEKS</b>
contohnya akan menjadi

NEXT

Membuat tulisan miring
kode:
<i>TEKS</i>
contoh:

NEXT

Membuat tulisan bergaris
kode:
<u>TEKS</u>
contoh:

NEXT

Membuat tulisan berwarna
kode:
<font color=”WARNA”>TEKS</font>
contoh:

NEXT

Membuat tulisan berukuran
kode:
<font size=”1-10″>TEKS</font>
contoh:

Ada Monyet.

sudah mengerti, kah?

baiklah kalau mengerti, selanjutnya, kita ke sinii…

Striked-Out Text = <strike>Striked-Out Text</strike>

Sub ScriptText = <sub>Sub Script</sub> Text

<tt>Typewriter Text</tt>

That’s my tutorial, segini dulu yahh, byee!




♥Princess di istana…

Kenalkanlah seorang princess bernama Adilla nurul ilma. Dia tinggal bersama family-nya di kota terpencil yaitu di Duri, Riau, Seorang princess yang biasa dipanggil Adilla atau Dilla ini mempunyai hobi yaitu Menggambar, Menulis, chatting, juga membaca. Dia bersekolah di SDIT 031 mutiara kelas 3. Usianya masih 8 tahun, Si Princess ini beragama Islam, si Princess ini sangat suka alam. Suka sekali berpetualangan, si princess paling jago nge- theme di multiply. Si Princess ini mampu mengatasi masalahnya. Panggil saja Princess Dilla. Princess Dilla mempunyai chat room .. kalau mau, klik aja deh yang dibawah ini.. adilla.nurulilma@yahoo.com Si Princess juga mempunyai blog, dia menyukai karakter barbie. Princess, winx club, fulla, dan masih banyak lagi! kebangsaanya ? tentu saja indonesia. Negara yang asri dan damai serta tentram, indah ditatap mata ini (deuu)

Kalenderku

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Princess Day

My Photos

More Photos

Kategori dari karanganku

Chat yuk…

Kalau mau Chat ke adilla.nurulilma@yahoo.com ya!

Blog Stats

  • 4,134 hits