Real Live
4 Nov 2008
Pada hari itu, aku sendirian beristirahat di lapangan sekolah. Di luar sekolahku ada tempat pembuangan sampah yang besar, di samping sampah yang besar itu, ada dua orang anak yang saaangat kurus. Aku iba dengannya, lalu kuberi dia duit 1.000, anak yang lebih besar (laki-laki) kemudian mengucapkan terimakasih, lalu dia memberitahu siapa namanya “Namaku Dawwet. Kamu, siapa? oh iya, ini adik aku namanya Ghea, dia kekurangan gizi, kata ibuk, kalau mau cari makan kami kesini aja, kadang kadang makannya roti busuk, nasi goreng bekas, dan yang aku ketemu disini, kata ibu, disini banyak makanannya.
“Oh, ternyata itu adikmu, Ghea, nama aku Dilla, nggg… Ghea ngomong nggak ya?” Aku menjawab pertanyaannya.
“Maaf, Ghea tidak terlalu bisa berbicara, kita belum lagi sekolah” Anak itu (Dawwet) menjawab. “Eh, kami harus pergi, ayah kami mungkin sudah pulang, nantinya kami lagi yang dipukul, ya udah, dada Dil, semoga sukses” Diapun pergi menggunakan gerobak kayunya yang sudah rapuh, juga dengan adiknya, Ghea, aku betul-betul senang punya teman baru di sekolah, apalagi mereka teman pertamaku yang ada di pinggir sampah..
jadi, Dawwet dan Ghea itu bersaudara, setelah tahu mereka dekat, ya udah, sejak istirahat aku sering mampir kesini lalu menyapa mereka, mereka sering kukasih chiki maupun makanan lainnya yang pokoknya oranga suka, deh. Akhirnya, aku bisa jadi teman mereka. Ghea sudah mulai bisa berbicara, Ghea itu 5 tahun dan Dawwet 10 tahun.
Keesokan harinya, Dawwet hanya datang sendirian, dia tidak membawa Ghea, ekspresi Dawwet sangat sedih. Terus aku datang deh ke dekat sampah, terus kutanya dia “Dawwet, Kenapa? Ghea mana?” Tanyaku, dia tidak menjawab, berhenti sebentar… lalu dia berbicara kembali. “Ghea sudah gak ada lagi.. Ghea semalam dikurung bapak, terus.. dia gak makan dan gak minum . Ghea jadi meninggal” Dawwet menampangkan kesedihannya. Akupun ikut sedih, Ghea sudah tidak ada lagi, dan, kemudian Dawwet berkata lagi….
GO TO PART 2
Komentar yang datang..